JAKARTA - Osteoporosis sering kali tidak terdeteksi hingga akhirnya penderitanya mengalami patah tulang. Kondisi ini membuat osteoporosis termasuk dalam ‘silent disease’ atau penyakit tidak menunjukkan gejala, yang harus diwaspadai.
“Sering kali didiagnosis hanya setelah penderita mengalami fraktur,” kata dokter spesialias ortopedi, dr. Aldico Sapardan, Sp. OT., CF, di kawasan Sudirman, Jakarta, pada Kamis, 23 Oktober 2025.
Osteoporosis adalah penyakit yang menyebabkan tulang menjadi rapuh, lemah, dan lebih rentan patah karena kepadatan dan massa tulangnya yang menurun. Banyak orang yang tidak sadar sudah mengalami penurunan kepadatan tulang tersebut pada tubuhnya, karena tidak mengalami gejala apa pun.
Seperti di Indonesia, melalui Data Persatuan Osteoporosis Indonesia (PEROSI) menunjukkan bahwa lebih dari 41,7 persen masyarakat Indonesia memiliki kepadatan tulang rendah (osteopenia).
Kondisi tersebut jika tidak segera diatasi akan berujung pada terjadinya osteoporosis. Ini harus diwaspadai karena jika terjadi osteoporosis akan berdampak pada fisik, kesehatan mental, dan juga ekonomi.
Oleh karena itu, Dokter Aldico mengatakan bahwa self awareness atau kesadaran dari masyarakat akan kondisi tubuh sendiri sangat penting. Terlebih bagi orang-orang yang selama ini menjalani pola hidup yang berantakan.
Pola hidup berantakan, seperti tidak banyak bergerak, pola makan tidak sehat, bisa menjadi faktor risiko yang memperburuk kepadatan tulang dan menyebabkan osteoporosis.
“Untuk self awareness, untuk kita memahami diri kita sendiri, pertama mungkin dari pola hidup kita dulu deh. Kita yang paling tahu pola hidup kita bagaimana. Apakah kita cuma sibuk kerja, duduk di depan komputer, tapi kita nggak olahraga,” jelasnya.
Menyadari pentingnya self awareness di masyarakat terkait osteoporosis tersebut, dalam rangka memperingati World Osteoporosis Day setiap 20 Oktober, Bayer Indonesia menyelenggarakan acara dengan tema “The Science Behind: Strong Bones, Preventing Osteoporosis Starts Today”.
Pada acara tersebut, masyarakat Indonesia diajak untuk memahami bahwa melindungi kesehatan tulang sejak dini merupakan investasi penting untuk kualitas hidup yang baik.
“Osteoporosis bukan hanya persoalan usia lanjut, tapi hasil dari kebiasaan yang kita bentuk sejak usia produktif. Melalui edukasi berkelanjutan dan produk berbasis sains, Bayer ingin membantu masyarakat Indonesia membangun kebiasaan menjaga tulang kuat sejak dini agar tetap aktif dan sehat di masa depan,” tutur Marketing Manager Nutritional Bayer Indonesia, Maharani Africia Saragih.
Beberapa hal yang dilakukan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terkait osteoporosis adalah dengan mengahadirkan CDR, suplemen dengan kalsium, vitamin D, vitamin C dan B6 untuk membantu pembentuhkan dan pemeliharaan kepadatan tulang.
Kemudian ada juga layanan pemeriksaan tulang secara gratis melalui CDR Bone Health Check, yang digelar di area publik. Layanan ini akan membantu masyarakat memahami kondisi tulangnya dan mengambil langkah pencegahan yang tepat.
Posting Komentar