JAKARTA - Komando Teater Timur Tentara Pembebasan Rakyat China (PLA) melakukan latihan gabungan dengan kode nama "Misi Keadilan 2025" mengelilingi Pulau Taiwan.
PLA mengerahkan seluruh angkatan yaitu Angkatan Darat, Angkatan Laut, Angkatan Udara dan Angkatan Roket untuk melakukan latihan di Selat Taiwan dan kawasan di utara, barat daya, tenggara dan timur Pulau Taiwan.
"Ini adalah peringatan keras terhadap kekuatan separatis 'kemerdekaan Taiwan' dan campur tangan eksternal, dan tindakan yang sah dan perlu untuk melindungi kedaulatan dan persatuan nasional China," kata juru bicara Komando Teater Timur PLA Shi Yi seperti termuat dalam laman Kementerian Pertahanan China yang diakses ANTARA di Beijing, Senin, 29 Desember.
Latihan tersebut akan berfokus pada patroli kesiapan tempur laut-udara, perebutan superioritas komprehensif gabungan, blokade di pelabuhan dan lokasi-lokasi penting serta pencegahan multidimensi di luar rantai pulau.
"Dengan kapal dan pesawat yang mendekati Pulau Taiwan dari berbagai arah, pasukan dari berbagai angkatan terlibat dalam serangan gabungan untuk menguji kemampuan operasi gabungan mereka," tambah Shi Yi.
Namun, tidak ada penjelasan berapa lama latihan militer gabungan mengelilingi pulau Taiwan itu akan dilakukan.
Latihan militer itu dilakukan setelah pada 17 Desember 2025, pemerintah AS mengatakan sudah menyetujui potensi penjualan senjata dan peralatan terkait senilai lebih dari 11 miliar dolar AS kepada Taiwan.
Skala dan latihan "Misi Keadilan 2025" mencerminkan apa yang disebut oleh juru bicara Kementerian Pertahanan Zhang Xiaogang pada 19 Desember sebagai tanggapan terhadap penjualan senjata AS ke Taiwan.
Ia juga mengemukakanPLA akan terus memperkuat pelatihan dan kesiapan tempur, mengambil "langkah-langkah tegas" untuk melindungi kedaulatan nasional dan integritas wilayah, dan dengan tegas menggagalkan aktivitas separatis "kemerdekaan Taiwan" dan campur tangan eksternal.
Dengan melakukan latihan-latihan tersebut, PLA mengumpulkan data dan pengalaman langsung tentang kondisi laut, cuaca, penggunaan senjata, dan koordinasi multi-layanan.
"Setiap penjualan senjata AS ke Taiwan hanya akan memperkuat tekad rakyat China untuk mempertahankan persatuan nasional, dan setiap penjualan senjata akan mendorong PLA untuk meningkatkan kesiapan tempurnya, mendorong separatis 'kemerdekaan Taiwan' lebih dekat pada kehancuran mereka," kata Zhang Xiaogang.
Reunifikasi nasional China secara menyeluruh, menurutnya adalah tren sejarah yang tak terbendung yang tidak dapat dicegah oleh kekuatan apa pun.
"Dengan mengandalkan senjata AS untuk menolak reunifikasi dengan tanah air, pasukan separatis Taiwan tidak melakukan apa pun selain mengorbankan keselamatan dan kesejahteraan penduduk pulau tersebut dan menggunakan uang hasil jerih payah mereka untuk memperkaya para pedagang senjata AS," tambah dia.
AS juga diminta untuk menyadari gangguan terhadap perdamaian dan stabilitas di kawasan Asia-Pasifik sama sekali bukan demi kepentingan AS sendiri dan sekutunya.
Posting Komentar