Survei : Mayoritas Pengguna Berisiko Mengalami “Smartphone Pinky”

Artikel Survei : Mayoritas Pengguna Berisiko Mengalami “Smartphone Pinky” di ambil dari berbagai sumber di internet , dengan tujuan untuk ikut berperan aktif berbagi informasi yang bermanfaat kepada orang banyak , Selamat membaca
Gejala seperti “smartphone pinky” semakin sering terjadi. (foto: x @ikran)

JAKARTA - Fenomena “smartphone pinky”—istilah untuk menggambarkan rasa sakit, pegal, atau bahkan perubahan bentuk pada jari kelingking akibat kebiasaan menopang ponsel—ternyata jauh lebih umum daripada yang dibayangkan.

Sebuah survei yang dilakukan melalui jajak pendapat pembaca Android Authority memperlihatkan bahwa sebagian besar pengguna memegang ponselnya dengan cara yang justru meningkatkan risiko tersebut.

Fenomena ini kembali mendapat sorotan setelah Andy Walker, penulis Android Authority, membagikan pengalamannya sendiri. Ia mengaku sering merasakan nyeri di tangan akibat kebiasaan memegang ponsel hanya dengan satu tangan sambil menggunakan jari kelingking sebagai “penyangga” di bagian bawah perangkat.

Menurut Walker, kebiasaan itu memang terasa paling alami untuk menjaga ponsel tetap stabil, terutama saat menggunakan perangkat modern yang ukurannya semakin besar. Sejumlah besar pembaca ternyata sepakat dengan hal itu.

Jajak pendapat yang dibuka melalui artikel tersebut menerima lebih dari 3.000 suara. Hasilnya cukup mencengangkan: lebih dari 58 persen responden mengaku memegang ponsel satu tangan dengan jari kelingking sebagai tumpuan. Dengan posisi jari lain menopang bagian belakang perangkat, metode ini memungkinkan ibu jari menjangkau lebih banyak area layar tanpa harus menggeser grip secara ekstrem.

Fleksibilitas inilah yang membuat banyak orang terbiasa menggunakan cara tersebut, meskipun risikonya sebenarnya cukup signifikan bagi kesehatan tangan.

Metode memegang ponsel yang paling populer kedua adalah penggunaan satu tangan dengan keempat jari berada di belakang perangkat. Cara ini dipilih oleh sekitar 23,4 persen responden. Gaya tersebut masih memungkinkan ibu jari menjangkau sebagian besar layar, tetapi tidak seluas metode sebelumnya. Sisanya memilih variasi lain: hanya 6,1 persen menggunakan aksesori seperti grip atau PopSocket, sementara sekitar 4,4 persen lebih nyaman menggunakan dua tangan.

Dengan mayoritas pengguna mengandalkan jari kelingking sebagai platform ponsel, tak mengherankan jika keluhan “smartphone pinky” semakin sering terdengar. Komentar pembaca pun menggambarkan betapa nyata dampaknya. Salah satu pembaca, pennsyfan2020, menulis bahwa jari kelingkingnya hampir selalu terasa tidak nyaman setelah menggunakan ponsel, meski kini sudah terbiasa.

Pengguna lain, ashtonpie99, mengaku harus memakai penyangga pergelangan tangan akibat tekanan jangka panjang dari pekerjaannya dan kebiasaan mengetik melalui ponsel. Bahkan ada yang mengalami perubahan bentuk jari, seperti joytuc58 yang menjelaskan bahwa buku jari kelingking kirinya tampak bengkok ke dalam akibat sering memainkan gim dalam mode landscape sambil menopang ponsel dengan jari tersebut.

Tak sedikit pula pengguna yang mencoba mengatasi masalah ini dengan beralih ke metode lain, mulai dari penggunaan gooseneck stand di setiap ruangan, lanyard, hingga casing ponsel dengan grip khusus.

Namun permasalahannya, menurut pembaca bernama Greg Lane, justru lebih mendasar. Ia menilai bahwa para produsen ponsel tidak merancang perangkat untuk digenggam dengan nyaman. Ukuran dan bobot ponsel yang terus meningkat—ditambah tren foldable yang semakin besar—membuat ergonomi penggunaan semakin ditinggalkan.

Walker sendiri menyadari bahwa tren ini tidak akan segera berubah. Ponsel masa kini semakin besar, semakin berat, dan semakin sarat fitur, sementara preferensi penggunaan satu tangan tetap bertahan karena menawarkan efisiensi yang sulit digantikan. Kondisi inilah yang membuat gejala seperti “smartphone pinky” semakin sering terjadi.

Bagi pengguna yang sudah merasakan gejala serupa, Walker mengutip saran rekannya, Megan Ellis, yang sebelumnya menuliskan beberapa langkah mitigasi, seperti melakukan peregangan tangan secara berkala, mengurangi waktu menggenggam ponsel, serta mengubah kebiasaan memegang perangkat agar tekanan pada jari dapat tersebar lebih merata.

Fenomena ini akhirnya memunculkan pertanyaan lebih besar: apakah kebiasaan memegang ponsel seperti 58 persen responden lain juga memengaruhi kesehatan kamu? Apakah kebiasaan menggenggam perangkat digital ini sudah membawa dampak fisik yang lebih serius? Walker menutup artikelnya dengan mengajak pembaca terus berdiskusi mengenai cara mereka menggunakan ponsel dan bagaimana kebiasaan itu memengaruhi kesehatan tangan di era smartphone modern.

Terimakasih sudah membaca artikel Survei : Mayoritas Pengguna Berisiko Mengalami “Smartphone Pinky” Sampai selesai , mudah-mudahan bisa memberi manfaat kepada anda , jangan lupa bagikan artikel ini kepada teman anda semua , sekian terima kasih.