JAKARTA - Warga Palestina dari dua sisi yakni Gaza dan Mesir berbondong-bondong menuju jalur penyeberangan Rafah pada Minggu 8 Februari waktu setempat. Mereka terdiri dari para pasien medis dan korban luka imbas serangan militer Israel.
AP melaporkan, para warga Pelestina itu berkumpul di halaman rumah sakit Bulan Sabit Merah di Kota Khan Younis, selatan Gaza sejak Minggu pagi, sebelum menuju penyeberangan Rafah dengan tujuan mendapat perawatan medis di luar negeri.
Salah satunya, Amjad Abu Jedian, yang terluka dalam serangan militer Israel ke Gaza, berencana melintasi Rafah untuk mendapat perawatan medis sejak hari pertama dibukanya lagi jalur perbatasan tersebut pada 2 Februari 2026.
Namun, ibunya, Raja Abu Jedian, yang menemani Jedian, kecewa. Hanya lima pasien yang diizinkan melintasi penyeberangan Rafah pada hari itu.
Jedian mengalami luka setelah ditembak oleh sniper atau penembak jitu Israel saat ia sedang membangun kamar mandi sederhana di kamp pengungsian Bureij di Jalur Gaza pada Juli 2024.
Pada Sabtu 7 Februari, keluarga Jedian akhirnya menerima telepon dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yang memberi tahu mereka bahwa ia termasuk dalam kelompok yang bisa melakukan perjalanan pada Minggu 8 Februari.
“Kami ingin mereka mengurus pasien (selama evakuasi). Kami ingin militer Israel tidak membebani mereka,” demikian perkataan WHO.
Berdasarkan laporan TV satelit Al-Qahera News milik Pemerintah Mesir, sejumlah warga Palestina dari sisi Mesir juga kembali ke Gaza lewat perbatasan penyeberangan Rafah.
Menurut data PBB, selama empat hari pembukaan penyeberangan, hanya 36 warga Palestina yang berencana melintas diizinkan menyeberang ke Mesir. Mereka diperbolehkan karena membutuhkan perawatan medis dan ditemani 62 pendamping.
Para pejabat Palestina mengungkapkan ada sekitar 20.000 orang di Gaza berupaya mendapatkan perawatan medis melintasi Rafah karena tidak tersedianya perawatan kesehatan di wilayah yang diinvasi Israel dalam dua tahun terakhir itu.
Beberapa orang yang berhasil melintasi penyeberangan Rafah mengaku, mengalami rintangan dengan penundaan selama berjam-jam, tudingan, perlakuan buruk hingga penggeledahan invasif oleh militer Israel dan kelompok bersenjata Palestina yang didukung Israel, Abu Shabab.
Atas sejumlah hal yang dialami warga sipil ini, badan militer Israel yang mengawasi penyeberangan Rafah belum memberikan tanggapan meski sudah dimintai keterangan.
Adapun jalur perbatasan Palestina-Mesir di penyeberangan Rafah dibagi dalam dua koridor.
Setelah para penyeberang diperiksa petugas gabungan Uni Eropa dan otoritas Palestina di koridor 1, mereka kemudian diperiksa militer Israel di koridor 2 di fasilitas penyaring yang tidak berdekatan dengan koridor 1.
Penyeberangan Rafah diketahui telah memasuki hari keempat pembukaan kembali pada Minggu 8 Februari, sejak diambilalih Israel pada Mei 2024.
Posting Komentar