JAKARTA - Menteri Energi Amerika Serikat (AS)Chris Wright mengincarpertumbuhan hingga 40 persen untuk produksi minyak Venezuela saat meninjau fasilitas minyak utama di Sabuk Orinoco.
Kunjungan Wright yang mencuri perhatian ke Venezuela terjadi setelah perubahan politik pada 3 Januari, ketika pasukan AS menangkap Presiden Nicolas Maduro dalam sebuah operasi militer di Caracas di tengah klaim pemerintahan Trump ia memimpin “pemerintahan korup dan tidak sah” yang terlibat dalam jaringan perdagangan narkoba besar yang menyelundupkan kokain ke AS.
Hal itumendorong pemerintah AS untuk secara signifikan melonggarkan sanksi yang telah lama diberlakukan dan membongkar embargo minyak untuk merevitalisasi sektor energi Venezuela.
“Kami memperkirakan akan melihat pertumbuhan 30-40 persen dalam produksi minyak Venezuela tahun ini,” katanya kepada wartawan saat mengunjungi Petroindependencia, usaha patungan antara perusahaan minyak milik negara Venezuela PDVSA dan raksasa energi asal AS Chevron dilansir ANTARA dari Anadolu, Jumat, 13 Februari.
“Kita harus mengubah permainan di sini untuk kemenangan bagi rakyat Venezuela, kemenangan bagi Amerika, dan kemenangan bagi seluruh Kawasan Barat,” tambahnya.
Para ahli yang mendampingi delegasi memastikan meskipun Petroindependencia saat ini memproduksi sekitar 40.000 barel per hari, infrastruktur yang ada memiliki potensi yang belum dimanfaatkan untuk mencapai 300.000 barel per hari dengan investasi segera dan perbaikan teknis.
Kunjungan tersebut berlangsung hanya satu hari setelah Wright secara resmi menyatakan embargo minyak AS terhadap Venezuela telah berakhir.
“Karantina minyak ini jelas pada dasarnya telah berakhir,” katanya.
Setelah pertemuan di Caracas dengan Rodriguez dan Kuasa Usaha AS Laura Dogu, Wright menggambarkan dekade sanksi sebelumnya sebagai “karantina” yang akhirnya dicabut untuk menstabilkan pasar global.
Sementara itu, Presiden AS Donald Trump menggaungkan optimisme ini dari Washington pada Kamis. Dia menggambarkan hubungan saat ini antara kedua negara sebagai momen kerja sama yang luar biasa.
Pertemuan pada Rabu menandai kali pertama seorang anggota kabinet Presiden Trump mengunjungi Venezuela.
Di bawah pemerintahan Maduro, Trump pernah mengirim utusan khusus, Richard Grenell, ke negara itu untuk bernegosiasi mengenai pembebasan tahanan AS, tetapi negosiasi Grenell dengan pemerintah Venezuela berakhir pada Oktober ketika Washington meningkatkan tekanan terhadap pemerintah Venezuela.
Posting Komentar