Tinjau Museum Pusaka Batak, Menteri Kebudayaan Dorong Storyline dan Koleksi Lokal Jadi Standar Museum Daerah

Artikel Tinjau Museum Pusaka Batak, Menteri Kebudayaan Dorong Storyline dan Koleksi Lokal Jadi Standar Museum Daerah di ambil dari berbagai sumber di internet , dengan tujuan untuk ikut berperan aktif berbagi informasi yang bermanfaat kepada orang banyak , Selamat membaca
Fadli Zon menegaskan museum harus menjadi “pusat belajar” dan “pusat edukasi”, bukan sekadar ruang pamer. (IST)

SAMOSIR - Menteri Kebudayaan RI Fadli Zon menegaskan museum harus menjadi “pusat belajar” dan “pusat edukasi”, bukan sekadar ruang pamer. Pernyataan itu ia sampaikan saat meninjau Museum Pusaka Batak di Pangururan, Kabupaten Samosir, Sumatera Utara, Sabtu, 7 Februari.

Museum Pusaka Batak dikenal menyimpan berbagai artefak budaya Batak. Koleksi museum ini sebagian besar merupakan hasil pengumpulan artefak yang dilakukan Pastor Leo, lalu ditata dan dikembangkan menjadi ruang pamer edukatif dengan alur cerita (storyline) yang sistematis. Pola penataan itu membuat pengunjung bisa mengikuti perjalanan kehidupan masyarakat Batak secara utuh, dari kehidupan sehari-hari, sistem sosial, hingga ritual dan upacara adat pada masa lalu.

Fadli mengapresiasi penataan museum yang dinilai informatif dan mudah dipahami. Ia menilai Museum Pusaka Batak mampu menjelaskan dinamika kehidupan masyarakat Batak sebelum dan sesudah masuknya pengaruh agama-agama melalui misi, sekaligus memperlihatkan proses perubahan budaya yang terjadi.

Fadli didampingi Bupati Samosir Vandiko T. Gultom, Wakil Bupati Ariston Tua Sidauruk disambut meriah. (IST)

Fadli didampingi Bupati Samosir Vandiko T. Gultom, Wakil Bupati Ariston Tua Sidauruk disambut meriah. (IST)

“Museum Pusaka Batak adalah tempat yang sangat penting untuk mengenal budaya Batak. Koleksi yang dipamerkan cukup banyak dan ditata dengan storyline yang sangat baik untuk menjelaskan bagaimana kehidupan masyarakat Batak di masa lalu, mulai dari kehidupan sehari-hari, ritual, hingga upacara-upacara adat,” ujar Fadli.

Ia juga menyoroti kekayaan koleksi etnografi yang ditampilkan, mulai dari tongkat adat, peralatan rumah tangga tradisional, hingga benda-benda simbolik bernilai tinggi seperti dompet raja. Menurutnya, kelengkapan koleksi itu harus menjadi contoh bagi museum-museum daerah di Indonesia.

“Kita melihat banyak sekali koleksi etnografi yang sangat menarik dan cukup lengkap. Inilah yang kita harapkan dari museum-museum di daerah, yaitu menampilkan koleksi lokal yang merepresentasikan identitas dan sejarah masyarakat setempat,” kata Fadli.

Menurut Fadli, fungsi museum tidak berhenti pada ruang pamer, tetapi menjadi sarana edukasi yang efektif. Dengan waktu kunjungan yang relatif singkat dan dibantu penjelasan edukator, pengunjung dapat memperoleh pemahaman mengenai tradisi yang masih bertahan, mengalami akulturasi, maupun yang tidak lagi dipraktikkan.

“Museum adalah pusat belajar, pusat edukasi, sekaligus pusat kebudayaan. Melalui museum seperti ini, kita bisa memahami perjalanan budaya, perubahan sosial, dan nilai-nilai yang membentuk masyarakat hingga hari ini,” ucapnya.

Dalam kunjungan tersebut, Fadli didampingi Bupati Samosir Vandiko T. Gultom, Wakil Bupati Ariston Tua Sidauruk dan sejumlah pejabat eselon 1 dan 2 Kementerian Kebudayaan serta Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah II Provinsi Sumatera Utara.

Mengakhiri kunjungan, Fadli berharap Museum Pusaka Batak terus dikembangkan menjadi rujukan pembelajaran budaya bagi masyarakat lokal, generasi muda, dan wisatawan yang ingin mengenal lebih dekat budaya Batak sebagai bagian dari kebudayaan Indonesia. Ia juga berharap keberadaan museum ini dapat memberi kontribusi bagi perekonomian daerah.

Terimakasih sudah membaca artikel Tinjau Museum Pusaka Batak, Menteri Kebudayaan Dorong Storyline dan Koleksi Lokal Jadi Standar Museum Daerah Sampai selesai , mudah-mudahan bisa memberi manfaat kepada anda , jangan lupa bagikan artikel ini kepada teman anda semua , sekian terima kasih.