Tampilkan postingan dengan label Renungan. Tampilkan semua postingan



Ingin Menikah? Carilah Pria yang Berusaha Keras dan Bukan Sekedar Merengek Pada Orang Tua
Bagi wanita dewasa yang sudah matang, ketika melihat dan bertatap muka dengan seorang pria pastinya akan membuat hati berdegup kencang. Bukan karena nafsu atau yang lain, hal tersebut terasa membahagiakan manakala anda bisa bersanding dengan orang tersebut. Perasaan tersebut bukan seolah-olah dia hanya orang biasa yang mudah datang dan pergi, namun dia adalah sosok dewasa yang dirasa siap untuk menghalalkanmu suatu saat nanti. Wanita yang sedang mengalami hal semacam ini patut berbangga karena telah menemukan cinta yang sesungguhnya.

Berikut beberapa hal yang perlu anda ketahui mengenai hubungan yang bisa anda bawa ke tahap yang selanjutnya yaitu pernikahan. Yang pastinya orang tersebut mau berusaha keras dan tidak bergantung lagi dengan orang tua.

Tidak Membanggakan Harta Yang Di Punyainya
Seperti di ketahui, manusia adalah makhluk yang jauh dari kata sempurna, hal itu juga berlaku pada pasangan anda. Jika pria yang membuat anda jatuh hati adalah pria yang berlatarbelakang keluarga yang kaya namun dia tidak selalu menunjukkan bahwa dia adalah orang yang selalu mampu, maka anda harus berbangga. Pasalnya pria yang demikian akan merasa bahwa semua harta yang dimiliki bukanlah semata kepunyaan dirinya saja. Sehingga jika anda menemukan sosok pria yang demikian, maka anda patut bersyukur karena menandakan bahwa sang pria tidak selalu bergantung pada orang tuanya.

Pekerja Keras
Tak hanya tuntutan bahwa usianya telah matang yang memaksanya untuk bekerja keras dalam hal pekerjaan, namun alasan untuk bekerja kerasnya tersebut adalah diri anda yang menjadi penyemangat. Seorang pria yang bekerja keras akan berusaha untuk menjaga anda dari kesusahan. Dan hak tersebut merupakan prioritas utamanya sehingga pria akan berusaha semaksimal mungkin untuk mengumpulkan pundi-pundi dana untuk mencukupi kebutuhan hidupnya kelak.

Pria yang mempunyai rasa pekerja keras yang tinggi tidak akan merepotkan orang tuanya supaya keputusannya tersebut akan mendedikasikan diri sebagai pria yang bertanggung jawab. Sebagai wanita tugas yang terpenting adalah mendampingi serta menyayangi selama hidupnya.

Tidak Ragu Untuk Berbagi dan Bersyukur Apapun yang Didapat
Jika pria anda termasuk dalam pria yang tampan dan mapan mungkin pasangan anda akan jarang bersikap jumawa. Karena menurutnya mengajari anda akan arti penting bersyukur adalah hal terpenting dibandingkan hanya sekedar kencan dan mengumbar rayuan-rayuan gombal. Terlepas dari rasa terima kasih yang senantiasa diucapkan dia juga berharap bahwa adalah wanita yang mampu selalu mengerti keadaannya.

Tidak Selalu Mengandalkan Orang Tua
Tidak hanya sekedar memperkenalkan anda kepada orang tuanya saja, bahkan ketika pasangan anda tidak pernah ragu dan selalu berkata “iya” jika disinggung masalah kesiapan untuk menikahi anda kelak. Dengan rasa hormatnya kepada kedua orang tua, dia juga akan menjadikan ibu dan bapaknya sebagai prioritas utamanya akan semua hal yang dilakukan pada setiap doa dan usaha kerasnya. Karena dia akan lebih bisa berpikir dewasa karena hidup tidak selamanya harus mengandalkan orang tua. Pria akan berpikir meskipun tidak bisa sepenuhnya bisa berada di samping orang tuanya pasca menikah, hal tersebut tidak akan menyurutkan rasa hormatnya kepada orang-orang yang telah berjasa dalam hidupnya.

Mengatasi Masalahnya Sendiri
Pekerjaan memang sudah menjadi hal yang melekat kuat pada seorang pria mengingat kewajiban seorang pria adalah memberi nafkah untuk keluarganya kecilnya kelak. Dalam pekerjaannya tersebut akan memaksanya untuk bekerja lembur sehingga pria akan meninggalkan rumah untuk beberapa hari karena tuntutan pekerjaan tersebut. Meski begitu, kata mengeluh tidak pernah terlontarkan dari mulutnya. Pria mungkin hanya bergumam bahwa hal-hal seperti itulah yang merupakan ujian untuk bisa meningkatkan kedewasaan.
Misalnya sedang beradu argument dengan anda, pria yang mencintai anda dengan tulus akan lebih sering mengalah yang kemudian akan menenangkan anda agar tidak menimbulkan perdebatan yang berkelanjutan. Jika pria berlaku demikian pada wanitanya, bukan berarti pria tersebut tidak tegas atau takut dengan anda, namun hal terbaik inilah yang bisa dia lakukan untuk anda dan masa depan hubungan kalian.
Untuk itu, wanita perlu memperhatikan laki-laki yang mempunyai prioritas masa depan yang baik. Carilah laki-laki yang mau berusaha keras berjuang untuk anda.



Istri yang Memiliki 9 Ciri Ini Adalah Mereka yang Akan Mengundang Rezeki Suaminya

Menikahi seorang wanita merupakan suatu kewajiban bagi seorang pria yang sudah mampu, baik dari segi fisik, mental maupun finansial.

Masalah finansial ini lah yang sering kali di anggap menjadi masalah terbesar ketika seorang pria hendak menikahi seorang wanita. Padahal sebenarnya jika anda melakukan pernikahan ini karena Allah, Allah tidak akan mungkin menyulitkan rezeki anda.
Selain dengan bekerja keras, ketika anda memilih wanita yang tepat maka Allah juga akan semakin memudahkan rezeki anda. Ya, karena seorang istri yang baik sebenarnya dapat menjadi pengundang rezeki suaminya. Berikut ini ciri-ciri istri yang dapat mengundang rezeki suaminya :

1. Istri yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya
Ketika seorang pria hendak menikahi wanita, maka ada 4 hal yang peru di pertimbangkan terlebih dahulu yaitu karena (1) kecantikannya, (2) keturunannya, (3) hartanya, (4) agamanya. Dari 4 hal tersebut agama merupakan aspek utama yang harus anda pertimbangkan dengan baik.

Karena ketika anda memilih wanita yang memiliki panutan agama yang baik maka secara otomatis dia akan taat kepada Allah dan RasulNya. Dengan ketaatannya kepada Allah dan Rasulallah maka istri itu akan membawa keluarganya kekehidupan yang tentram.

Dan tanpa anda sadari kehidupan rumah tangga yang tentram, bahagia dan nyaman adalah rezeki dari Allah yang tiada tara. Selain itu, sebuah rumah tangga yang diisi oleh seorang suami yang sholeh dan istri yang sholehah maka akan menjadi keluarga yang berkah. Mereka juga akan di karunia anak yang sholehsholehah yang nantinya bisa menyelamatkan mereka dari siksa akhirat.

2. Istri yang taat pada suaminya
Selain taat kepada Allah dan Rasulullah, seorang istri juga wajib taat kepada suaminya.Dengan catatan bahwa perintah suaminya merupakan perintah baik dan tidak bertentangan dengan ajaran Allah. Hal ini di jelaskan dalam sebuah hadis yaitu
Jika aku boleh menyuruh seseorang untuk sujud kepada orang lain niscaya aku akan menyuruh seorang isteri untuk sujud kepada suaminya (H.R. Tirmidzi dan Ibnu Majah).

Ketika seorang suami memilik istri yang taat kepadanya, maka hati suami akan menjadi tenang dan bahagia. Dengan begitu untuk menjalankan kewajibannya mencari nafkah untuk keluarga juga akandilakukannya dengan bahagia dan ikhlas.

Dan jika seorang istri ingin membantu mencari nafkah untuk keluarganya, maka harus terlebih dahulu meminta ijin kepada suaminya dan mampu menjaga nama baik keluarga dan dirinya di tempat kerja. Hal ini di jelaskan dalam Al-Qur’an.

“Laki-laki adalah pemimpin atas wanita karena Allah telah melebihkan sebagian dari mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (wanita) dan dengan sebab sesuatu yang telah mereka (laki-laki) nafkahkan dari harta-hartanya. Maka wanita-wanita yang saleh adalah yang taat lagi memelihara diri di belakang suaminya sebagaimana Allah telah memelihara dirinya”.(Q.S. An Nisa : 34).

3. Istri yang melayani suaminya dengan baik
Kewajiban utama seorang istri adalah melayani suaminya dengan baik serta merawat dan mendidik anak-anak mereka.Melayani suami ini memiliki cakupan yang sangat luas, mulai dari menyiapkan segala kebutuhan suami hingga melayani suami dalam hal kebutuhan rohaniah.

Jika seorang istri yang sholehah mampu melayani suaminya dengan baik, maka kehidupan rumah tangga mereka akan menjadi sakinah. Dan kesholehahan istri ini lah yang akan mengundang segala hal yang baik untuk rumah tangga mereka, termasuk rezeki yang halal dan berkah.

4. Istri yang berdandan hanya untuk suaminya
Saat ini, seorang wanita yang keluar rumah tanpa menggunakan make up rasanya sudah sangat langka bahkan tidak ada. Sedangkan saat di rumah dan bersama suaminya mereka hanya akan membiarkan diri tanpa riasan sedikit pun.

Hal ini tentu sangat salah, karena sesungguhnya wanita yang sholehah hanya berdandan untuk suaminya saja.Dan menyederhanakan diri ketika keluar rumah, agar tidak mengundang kesalahpahaman dan hal-hal negatif lainnya. Ini di jelaskan dalam sebuah hadist yaitu

“Sesungguhnya dunia itu adalah perhiasan dan sebaik-baik perhiasan dunia adalah wanita salehah” (H.R. Muslim).

5. Istri yang ketika di tinggal akan menjaga kehormatan dan harta suaminya.
Kewajiban suami untuk mencari nafkah sering kali menuntut suami untuk keluar rumah dan meninggalkan istrinya. Seorang istri yang sholehah ketika di tinggal suaminya untuk mencari nafkah, maka dia akan menjaga kehormatan suaminya dengan baik.

Dia juga akanmenjaga seluruh harta yang di tinggalkan suami dengan baik, dan menggunakannya pada hal-hal yang posifis yang tentu saja atas ijinsuaminya. Selain itu, istri yang sholehah juga tidak akan sembarangan menerima tamu yang tidak pantas dan meminimalkan pergi keluar rumah tanpa tujuan yang penting.

Jika seorang istri mampu melakukan hal yang demikian maka rezeki halal akan mudah masuk kerumahnya sebagai balasan dari Allah atas ketaatannya dan kesetiaanya pada suami.

6. Istri yang selalu meminta ridha suami
Dalam sebuah rumah tangga ridha suami atas istrinyasangatlah penting. Seorang istri yang selalu meminta ridha suami atas dirinya tahu betul bagaimana cara membahagiakan hati suaminya, tidak membuat hati suaminyatersakiti, tidak akan meninggalkannya ketika sedang marah atau sang suami sedang marah.

Seorang istri yang memiliki sifat-sifat seperti ini adalah mereka para penghuni surga, yang di jelaskan dalam sebuah hadist yaitu “Maukah kalian kuberitahu isteri-isteri yang menjadi penghuni surga yaitu isteri yang penuh kasih sayang, banyak anak, selalu kembali kepada suaminya, dimana jika suaminya marah dia mendatangi suaminya dan meletakkan tangannya pada tangan suaminya seraya berkata ”Aku tak dapat tidur sebelum engkau ridha” (H.R.AnNasai).

Ketika seorang suami memiliki istri demikian, maka Allah akan membuahkan rezeki istri melalui tangan sang suami dikarenakan amalan serta kesetiaannya pada sang suami.
7. Istri yang menerima pemberian suami dengan ikhlas
Ketika istri menerima segala pemberian suami dengan ikhlas meskipun jumlahnya sedikit, maka Allah akan memberikan keberkahan yang lebih pada rezeki yang di berikannya melalui tangan suami tersebut.

Keikhlasan seorang istri atas pemberian suami ini bisa di perlihatkan dengan tidak pernah mengeluh, selalu bersyukur serta tidak pernah menuntut lebih dari kemampuan suaminya.

8. Istri yang menjadi partner untuk mendapat ridha Allah
Seorang istri sholehah yang bisa menjadi partner dalam mendapat ridha Allah adalah istri yang selalu menjadi menjadikan rumah tangga sebagai lahan pahala. Dia juga akan menasehati dengan lembut ketika suaminya berbuat kesalahan serta menjadi motivator utama ketika rumah tangganya sedang dalam kesusahan.

Saat sebuah rumah tangga di huni oleh istri yang demikian Allah akan sangat ridha dan tak segan-segan untuk memudahkan rezekinya.

9. Istri yang tak pernah putus dalam mendoakan suaminya
Selain dengan bekerja keras, rezeki juga akandimudahkan ketika seorang hamba memohon dengan ikhlas dan tulus.

Dari situlah, istri yang akan mengundang rezeki suaminya adalah istri yang selalu berdoa kepada Allah agar rezeki suami serta anak-anaknya di berikan dengan lancar dan berkah. Dia tidak akan pernah putus doa dan selalu menghiasi bibirnya dengan lantunan doa terhadap Allah SWT.
Semoga penjelasan di atas dapat membuat anda khususnya kaum hawa, menjadi hamba yang lebih taat pada Allah dan RasulNya serta menjadi istri yang lebih untuk suaminya.


Masya Allah. Kucing Menunggu Buka Puasa di Masjidil Haram dengan Sabar
Kucing merupakan salah satu hewan peliharaan yang sangat menggemaskan sehingga tak heran bila banyak orang yang menyukainya. Selain itu, kucing juga memiliki tingkah laku yang lucu bahkan tak jarang orang sering terpukau karenanya.

Sebagai contohnya adalah kucing asal Makkah ini. Ya, kucing yang berwarna Jingga, asal Mekkah memang baru-baru ini sempat membuat kagum para netizen terutama para pengguna akun sosial media yakni Twitter.

Hal tersebut karena beberapa waktu sebelumnya kucing tersebut sempat tertangkap kamera sedang duduk santai di Masjidil Haram, Jeddah, Makkah. Saat itu pula, kucing lucu ini terlihat layaknya orang yang sedang berpuasa. Ya, karena ketika saat itu ia tampak menunggui makanan yang ada di hadapannya.

Hal ini tentu saja tak lazim bagi hewan, karena mengingat biasanya kucing tak akan menunggu lama untuk menyantap makanan apalagi jika makanan tersebut berada di depan matanya.

Sementara, di sekeliling kucing ini sudah ada umat muslim yang tampaknya sedang menunggu waktunya berbuka puasa di Masjidil Haram, Jedah, Makkah.
Menurut lansiran dari laman Arab News, banyak umat muslim di sosial media yang telah memuji perilaku unik kucing tersebut.

"Tampaknya kucing tersebut telah memesan tempat untuk berbuka puasa, di meja buka puasa di Masjidil Haram," komentar dari Ahmed Al-Jawhari.

"ini gambar yang paling indah dari kucing duduk di meja puasa buka puasa di antara jamaah dan menunggu berbuka puasa," ujar netter yang bernama Mohammed Massad.

Selain itu salah satu pengguna socmed yakni Asael Bukhari juga berkomentar bahwa foto ini juga menakjubkan bagaimana Islam yang memberikan hak untuk hewan "Meskipun kucing datang dan duduk di antara jamaah di meja puasa, tapi tidak diusir dari sana. Sebaliknya, para jamaah justru menikmati kehadiran kucing di antara mereka."
"Etiket tersebut menunjukkan bahwa bahkan hewan menyadari bulan Ramadhan dan pentingnya puasa," ujar Azmat Ahmed.


Inilah 14 Kesalahan yang Sering Dilakukan di Bulan Ramadhan. Nomor 8 Paling Sering Dilakukan

Dalam setahun, ada satu bulan yang kedatangannya selalu kita nantikan, ia adalah bulan Ramadhan. Alhamdulillah, bulan yang sangat kita rindukan itu kini telah tiba. Pada bulan ini Allah mencurahkan kebaikanNya untuk segenap hamba-hambaNya yang beriman. Di bulan Ramadhan, kedermawanan Nabi SAW lebih deras dari hembusan angin.
Para Sahabat dan As-Salafus Shalih terdahulu selalu berlomba-lomba menumpuk kebaikan dan amal ibadah di dalamnya. Namun saat ini, kondisi umat Islam sungguh memilukan, mayoritas mereka tak saja lemah untuk diajak ber-fastabiqul khairat (berlomba-lomba dalam kebaikan) di bulan penuh kemuliaan ini, tapi mereka selalu saja hampir sepanjang tahun tak siap dengan amalan-amalan yang semestinya mereka lakukan secara benar.

Bulan Ramadhan adalah bulan penuh berkah, musim berbagai macam ibadah seperti puasa, shalat, membaca Al-Qur'an, bersede-kah, berbuat baik, dzikir, do'a, istighfar, memohon Surga, berlindung dari masuk Neraka serta macam-macam ibadah dan amal kebajikan lainnya.

Orang yang beruntung adalah yang menjaga setiap detik waktunya, baik di siang atau malam hari untuk berbagai amal perbuatan yang menjadikannya berbahagia serta lebih dekat kepada Allah, sesuai dengan yang diperintahkan, tanpa menambah atau mengurangi. Karena itu, setiap muslim wajib belajar tentang hukum-hukum puasa.

Sayangnya, tak sedikit orang yang melalaikan masalah ini, sehingga banyak terjerumus pada kesalahan-kesalahan. Di antara kesalahan-kesalahan yang jamak (umum) dilakukan orang berkaitan dengan bulan Ramadhan adalah:

1.Tidak mengetahui hukum-hukum puasa serta tidak menanyakannya.
 Padahal Allah SWT berfirman yang artinya: "Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan, jika kamu tidak mengetahui." ( An-Nahl: 43).
Dan Rasulullah SAW bersabda: "Barangsiapa dikehendaki baik oleh Allah, niscaya ia dipahamkan dalam urusan agamanya." ( Muttafaq Alaih).

2. Menyambut bulan suci Ramadhan dengan hura-hura dan bermain-main.
Padahal yang seharusnya adalah menyambut bulan yang mulia tersebut dengan dzikir dan bersyukur kepada Allah, karena masih diberi kesempatan bertemu kembali dengan Ramadhan. Lalu hendaknya ia bertaubat dengan sungguh-sungguh, kembali kepada Allah serta melakukan muhasabatun nafs (perhitungan dosa-dosa pribadi), baik yang kecil maupun yang besar, sebelum datang hari Perhitungan dan Pembalasan atas setiap amal yang baik maupun yang buruk.

3. Ta'at hanya di bulan Ramadhan.
Sebagian orang, bila datang bulan Ramadhan mereka bertaubat, shalat dan puasa. Tetapi jika bulan Ramadhan telah berlalu mereka kembali lagi meninggalkan shalat dan melakukan berbagai perbuatan maksiat. Alangkah celaka golongan orang seperti ini, sebab mereka tidak mengetahui Allah kecuali di bulan Ramadhan. Tidakkah mereka mengetahui bahwa Tuhan bulan-bulan pada sepanjang tahun adalah Satu jua? Bahwa maksiat itu haram hukumnya di setiap waktu? Bahwa Allah mengetahui perbuatan mereka di setiap saat dan tempat?

Karena itu, hendaknya mereka bertaubat kepada Allah dengan taubat nashuha (sebenar-benar taubat), meninggalkan maksiat serta menyesali apa yang telah mereka lakukan di masa lalu, selanjutnya berkemauan kuat untuk tidak mengulanginya di kemudian hari. Dengan demikian insya Allah taubat mereka akan diterima, dan dosa-dosa mereka diampuni.

4. Beranggapan keliru.
 Sebagian orang beranggapan bulan Ramadhan adalah kesempatan untuk tidur dan bermalas-malasan di siang hari, serta untuk begadang di malam hari. Lebih disayangkan lagi, mayoritas mereka begadang dalam hal-hal yang dimurkai Allah, berhura-hura, bermain yang sia-sia (seperti main kartu dsb.), menggunjing, adu domba dan sebagainya. Hal-hal semacam ini sangat berbahaya dan merugikan mereka sendiri.

Sesungguhnya hari-hari bulan Ramadhan merupakan saksi ta'atnya orang-orang yang ta'at dan saksi maksiatnya orang-orang yang ahli maksiat dan lupa diri.

 5.Bersedih dengan datangnya bulan Ramadhan.
 Sebagian orang ada yang merasa sedih dengan datangnya bulan Ramadhan dan bersuka cita jika bulan Ramadhan berlalu. Sebab mereka beranggapan bulan Ramadhan akan menghalangi mereka melakukan kebiasaan maksiat dan menuruti syahwat. Mereka berpuasa sekedar ikut-ikutan dan toleransi. Karena itu mereka lebih mengutamakan bulan-bulan lain daripada bulan Ramadhan. Padahal ia adalah bulan penuh barakah, ampunan, rahmat dan pembebasan dari Neraka bagi setiap muslim yang melakukan kewajiban-kewajibannya dan meninggalkan setiap yang diharamkan atasnya, mengerjakan segala perintah dan menjauhi segala yang dilarang.

6. Begadang untuk sesuatu yang tidak terpuji.
Banyak orang yang begadang pada malam-malam Ramadhan dengan melakukan sesuatu yang tidak terpuji, bermain-main, ngobrol, jalan-jalan atau duduk-duduk di jembatan atau trotoar jalan. Pada tengah malam mereka baru pulang dan langsung sahur kemudian tidur. Karena kelelahan, mereka tidak bisa bangun untuk shalat Shubuh berjamaah pada waktunya.

Ada banyak kesalahan dan kerugian dari perbuatan semacam ini:
Begadang dengan sesuatu yang tidak bermanfaat. Padahal Nabi SAW membenci tidur sebelum Isya' dan bercengkerama (ngobrol) setelahnya kecuali dalam hal kebaikan. Dalam hadits riwayat Ahmad, Rasulullah SAW bersabda: "Tidak boleh bercengkerama kecuali bagi orang yang shalat atau bepergian." (As-Suyuthi berkata, hadits ini hasan).

Sia-sianya waktu mereka yang sangat berharga. Mereka sama sekali tidak memanfaat-kannya sedikitpun. Padahal masing-masing orang akan menyesali setiap waktu yang ia lalui tanpa diiringi dengan mengingat Allah di dalamnya.

Menyegerakan sahur sebelum waktu yang dianjurkan. Padahal Rasulullah SAW menganjurkan sahur pada akhir malam sebelum terbit fajar.

Musibah terbesar mereka adalah tidak dapat menunaikan shalat Shubuh berjamaah tepat pada waktunya. Betapa tidak, sebab pahala shalat Shubuh berjamaah menyamai shalat satu malam atau separuhnya. Hal ini sebagaimana disabdakan Rasulullah SAW: "Barangsiapa shalat Isya' berjamaah maka seakan-akan ia shalat separuh malam dan barangsiapa shalat Shubuh berjamaah maka seakan-akan ia shalat sepanjang (satu) malam." (HR. Muslim dari Utsman bin Affan radhiallahu anhu).

Orang yang meninggalkan shalat Shubuh secara berjamaah tersebut berkarakter sebagaimana orang-orang munafik, mereka tidak melakukan shalat kecuali dalam keadaan malas, mengakhirkan waktunya dan tidak berjamaah. Mereka mengharam-kan dirinya dari mendapatkan keutamaan serta pahala yang besar.

7. Hanya menjaga hal-hal lahiriah.
Banyak orang yang menjaga dari hal-hal yang membatalkan puasa secara lahiriah seperti makan, minum dan bers3ngg4ma dengan isteri, tetapi tidak menjaga dari hal-hal yang membatalkan puasa secara mak-nawiyah seperti menggunjing, adu domba, dusta, melaknat, mencaci, memandang wanita-wanita di jalanan, di toko, di pasar dan sebagainya.

Seyogyanya setiap muslim memperhatikan puasanya, menjauhkan diri dari hal-hal yang diharamkan dan membatalkan puasa. Sebab betapa banyak orang yang berpuasa, tetapi ia tidak mendapatkan kecuali lapar dan dahaga belaka. Betapa banyak orang yang shalat, tetapi ia tidak mendapatkan kecuali begadang dan letih saja. Rasulullah SAW bersabda:

"Barangsiapa tidak meninggalkan ucapan dan perbuatan dusta maka Allah tidak butuh terhadap puasanya dari makan dan minum."(HR. Al Bukhari).

8. Meninggalkan shalat tarawih.
 Padahal telah dijanjikan bagi orang yang menjalankannya -karena iman dan mengharap pahala dari Allah- ampunan akan dosa-dosanya yang telah lalu. Orang yang meninggalkan shalat tarawih berarti meremehkan adanya pahala yang agung dan balasan yang besar ini.
Ironinya, banyak umat Islam yang meninggal-kan shalat tarawih. Barangkali ada yang ikut shalat sebentar lalu tidak melanjutkannya hingga selesai. Atau rajin melakukannya pada awal-awal bulan Ramadhan dan malas ketika sudah akhir bulan. Alasan mereka, shalat tarawih hanyalah sunnah belaka.

Benar, tetapi ia adalah sunnah mu'akkadah (sangat dianjurkan) yang dilakukan oleh Rasulullah SAW, Khulafaur Rasyidin dan para Tabi'in yang mengikuti petunjuk mereka. Ia adalah salah satu bentuk taqarrub (mendekatkan diri) kepada Allah, dan salah satu sebab bagi ampunan dan kecintaan Allah kepada hambaNya. Orang yang meninggalkannya berarti tidak mendapatkan bagian daripadanya sama sekali. Kita berlindung kepada Allah dari yang demikian. Dan bahkan mungkin orang yang melakukan shalat tarawih itu bertepatan dengan turunnyaLailatul Qadar, sehingga ia mendapatkan keberuntungan dengan ampunan dan pahala yang amat besar.

9. Puasa tetapi tidak shalat.
 Sebagian orang ada yang berpuasa, tetapi meninggalkan shalat atau hanya shalat ketika bulan Ramadhan saja. Orang semacam ini puasa dan sedekahnya tidak bermanfaat. Sebab shalat adalah tiang dan pilar utama agama Islam.

10.Bepergian agar punya alasan berbuka.
 Sebagian orang melakukan perjalanan ke luar negeri pada bulan Ramadhan untuk tujuan yang baik, tetapi agar bisa berbuka puasa dengan alasan musafir.
Perjalanan semacam ini tidak dibenarkan dan ia tidak boleh berbuka karenanya. Sungguh tidak tersembunyi bagi Allah tipu daya orang-orang yang suka menipu. Sebagian besar orang yang melakukan hal tersebut adalah para tukang mabuk dan minum-minuman keras. Mudah-mudahan Allah menjauhkan kita dari yang demikian.

11.Berbuka dengan sesuatu yang haram.
 Seperti minuman yang memabukkan, rokok dan sejenisnya. Atau berbuka dengan sesuatu yang didapatkan dari yang haram. Orang yang makan atau minum dari sesuatu yang haram tak akan diterima amal perbuatannya dan tak mungkin pula do'anya dikabulkan.

12.Tergesa-gesa dalam shalat.
 Sebagian imam-imam masjid dalam shalat tarawih amat tergesa-gesa dalam shalatnya. Mereka melakukan gerakan-gerakan dalam shalatnya dengan amat cepat, sehingga menghilangkan maksud shalat itu sendiri. Mereka dengan cepat membaca ayat-ayat suci Al- Qur'an, padahal semestinya ia membaca secara tartil. Mereka tidak thuma'ninah (tenang) ketika ruku', sujud, bangun dari ruku' dan ketika duduk antara dua sujud, ini adalah tidak boleh dan shalat menjadi tidak sempurna karenanya.
Seyogyanya setiap imam thuma'ninah ketika berdiri, duduk, ruku', sujud, bangun dari ruku' dan ketika duduk antara dua sujud.

Rasulullah SAW bersabda kepada orang yang tidak thuma'ninah dalam shalatnya, artinya: "Kembalilah, lalu shalatlah karena sesungguh-nya engkau belum shalat." (Muttafaq Alaih).

Dan seburuk-buruk pencuri adalah orang yang mencuri shalatnya. Yakni ia tidak menyempurnakan ruku', sujud dan bacaan dalam shalatnya.

Shalat adalah timbangan, barangsiapa menyempurnakan timbangannya maka akan disempurnakan untuknya. Sebaliknya, barangsiapa curang maka Neraka Wail-lah bagi orang-orang yang curang.

13. Mendahului imam.
 Banyak didapati para makmum mendahului imam dalam shalat tarawih dan shalat-shalat lainnya, baik dalam memulai gerakan ketika ruku', sujud, berdiri atau duduk. Ini adalah tipu daya setan dan salah satu bentuk peremehan terhadap masalah shalat.

Ada empat kondisi antara makmum dengan imamnya dalam shalat jama'ah. Satu daripadanya dianjurkan dan tiga kondisi lainnya dilarang. Tiga kondisi yang dilarang itu adalah makmum mendahului imam, menyelisihi (terlambat daripada)nya dan menyamai (berbarengan dengan)nya. Adapun satu kondisi yang dianjurkan bagi makmum yaitu mengikuti imam. Dalam shalatnya, para makmum dianjurkan langsung mengikuti pekerjaan-pekerjaan shalat imamnya. Jadi, makmum tidak boleh mendahului gerakan-gerakan imam, juga tidak boleh membarengi atau terlambat daripadanya.

Orang yang mendahului gerakan imam, shalatnya adalah batal. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah SAW: "Tidakkah takut orang yang mengangkat kepalanya sebelum imam, Allah mengubah kepalanya menjadi kepala keledai atau mengubah rupanya menjadi rupa keledai?" (Muttafaq Alaih).

Hal ini disebabkan oleh shalatnya yang jelek sehingga ia tidak mendapatkan pahala daripadanya. Seandainya dia dianggap telah shalat tentu ia diharapkan mendapatkan pahala. Dan tak diragukan lagi, pengubahan Allah kepalanya menjadi kepala keledai adalah salah satu bentuk siksaanNya.

14. Makmum membaca mushaf.
Sebagian makmum ada yang membawa mushaf Al-Qur'an ketika shalat tarawih, mereka mengikuti bacaan imam dengan melihat mushaf Al-Qur'an. Pekerjaan ini adalah tidak disyari'atkan dan juga tidak didapatkan dalam amalan para salaf. Ia tidak boleh dilakukan kecuali bagi orang yang ingin membetulkan imam jika salah.

Yang diperintahkan kepada makmum adalah mendengarkan bacaan imam dengan diam. Hal ini berdasarkan firman Allah, artinya: "Dan apabila dibacakan Al-Qur'an maka dengarkanlah baik-baik dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu mendapat rahmat."( Al A'raf: 204).

Imam Ahmad berkata: "Banyak orang sepakat bahwa ayat ini maksudnya adalah ketika dalam keadaan shalat". Lalu, Syaikh Abdullah bin Abdurrahman Al-Jibrin juga telah mengingatkan dalam"At- Tanbiihat 'Alal Mukhaalafati Fis Shalah", beliau berkata: "Sesungguhnya pekerjaan ini (makmum membaca mushaf Al-Qur'an ketika shalat) menjadikan makmum tidak khusyu' dan tadabbur dalam shalatnya, karena itu ia termasuk pekerjaan sia-sia."
Demikianlah sahabat tentang 14 Kesalahan yang Sering Dilakukan Pada Bulan Ramadhan. Semoga bermanfaat, jazakallah.


Susah Khusyuk Saat Shalat. Inilah Kiat Mendapatkan Khusyuk Ketika Melaksanakan Ibadah Shalat

Khusyuk adalah salah satu hal yang dituntut di dalam shalat. Nilai dari kesempurnaan suatu shalat sangatlah ditentukan oleh khusyuk ini. Semakin khusyuk seseorang di dalam shalatnya, maka semakin tinggi nilai shalatnya. Sebaliknya, semakin banyak dia lalai di dalam shalatnya, maka semakin berkurang pula nilai shalatnya.
Ia juga merupakan salah satu tanda keberuntungan bagi seorang mukmin sebagaimana yang difirmankan Allah ta’ala di dalam Al Qur`anul Karim:

“Sungguh beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyuk di dalam shalat mereka.” [QS Al Mu`minun: 1-2]

Sebagian ulama salaf mendefinisikan khusyuk di dalam shalat berupa ketenangan di dalamnya. Abu Asy Syaima` berkata bahwa khusyuk adalah suatu bentuk penghinaan diri dan perendahan hati di hadapan Allah dengan hati dan anggota tubuh. Definisi ini menunjukkan bahwa khusyuk merupakan amalan hati dan anggota tubuh. Artinya, apabila hati khusyuk, maka anggota tubuhpun akan ikut tenang.

Diriwayatkan oleh Abdurrazzaq dan yang lainnya dari Sa’id ibnul Musayyab rahimahullah, dia melihat ada seseorang yang shalat sambil mempermainkan jenggotnya. Lalu Sa’id berkata: “Sesungguhnya saya menilai orang ini kalau hatinya khusyuk, maka anggota tubuhnya akan ikut khusyuk pula.”

Lantas, sering timbul pertanyaan tentang bagaimanakah cara mendatangkan kekhusyukan di dalam shalat. Pertanyaan ini telah dijawab oleh para ahlul ‘ilmi, di antaranya adalah Syaikh Abdullah bin Abdirrahman Al Bassam rahimahullah di dalam kitabnya Taudhihul Ahkam (2/83). Beliau menyebutkan enam kiat untuk menghadirkan kekhusyukan di dalam shalat. Berikut ini kami sampaikan ringkasannya:

1.Memohon perlindungan kepada Allah ta’ala dari gangguan syaithan. Ini dilakukan sebelum membaca surat Al Fatihah pada rakaat pertama.

2.Memahami arti dan merenungkan makna (tadabbur) dari setiap bacaan, zikir, dan doa di dalam shalat.

3.Menghadirkan di dalam pikiran kita kebesaran dan keagungan Allah ta’ala, dan bahwasanya kita sedang menghadap kepada-Nya untuk bermunajat kepada-Nya.

4.Menyadari kelemahan dan kefakiran kita terhadap kebesaran Allah ta’ala ketika dalam keadaan ruku’ dan sujud.

5.Membatasi pandangan hanya pada tempat sujud karena jika pandangan terpecah fokusnya maka hatipun akan ikut terpecah konsentrasinya.

6.Mengosongkan pikiran dari segala hal yang dapat menyibukkannya.
  1. Inilah Makanan Sehat Saat Waktu Sahur yang Mengenyangkan
  2. Inilah Perbedaan Shalat Tahajud dan Shalat Hajat
  3. Inilah Pertanyaan yang Dilontarkan Allah Saat Hari Kiamat Tiba Nanti
  4. Inilah Tanda Suami Bahagia dalam Pernikahannya - New!
  5. Innalillah, Gara-Gara Kebanyakan Selfie Gadis Ini Jadi Sakit Jiwa
Demikianlah kiat mendapatkan khusyuk ketika melaksanakan ibadah shalat. Semoga Allah SWT memudahkan kita agar dapat mengamalkannya di dalam setiap shalat kita. Amin


Wahai Suami. Ketahuilah Uangmu Milik Istrimu Namun Uang Istrimu Bukan Milikmu
Dalam berumah tangga, seorang suami berkewajiban untuk menafkahi keluarganya. Sehingga merupakan hal yang lumrah bila suami lebih banyak yang bekerja bila dibandingkan dengan wanita. Meski demikian, tidak menutup kemungkinan bila seorang wanita juga bekerja dan bahkan menjadi tulang punggung keluarga. Idealnya seorang suami dan istri saling bahu membahu memenuhi kebutuhan rumah tangga. Bila suami memberikan nafkah, maka sang istri yang mengatur keuangan. Namun, terkadang nafkah yang diberikan oleh suami tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari sehingga akhirnya sang istri ikut bekerja untuk membantu suami. Dengan begitu, sang istri akan memiliki penghasilannya sendiri.

Lantas, bagaimanakah hukum penghasilan istri ? Berhak kah seorang suami untuk mengambil gaji istrinya ? Dan, wajibkah istri memberikan sebagian penghasilannya untuk memenuhi kebutuhan rumah tangganya ? berikut ulasan selengkapnya.

Berdasarkan fatwa ulama, disepakati bahwa bila pendapatan atau gaji suami yang juga menjadi hak bagi istrinya, maka berbeda halnya dengan gaji istri dari pekerjaan yang dilakukannya adalah milik istri dan tidak ada hak bagi suaminya sedikitpun. Terkecuali jika sang istri dengan ikhlas memberikannya untuk membantu atau menopang keuangan keluarga.

Apabila seorang suami memakan harta milik istri tanpa sepengetahuannya, maka dapat dikatakan bahwa ia berdosa. Sebagaimana firman Allah Ta’ala

“Janganlah memakan harta orang lain diantara kalian secara batil” (QS. An-Nisa: 83)

Saat seseorang bertanya kepada Syaikh ‘abdullah bin ‘Abdur Rahman al-Jibrin tentang hukum suami yang mengambil uang milik istrinya untuk kemudian digabungkan dengan uangnya. Maka Syaikh al-Jibrin mengatakan bahwa tidak disangsikan lagi bahwa istri lebih berhak dengan mahar dan harta yang ia miliki, baik melalui usaha yang dilakukannya, warisan, hibah dan harta yang ia miliki. Maka itu merupakan hartanya dan menjadi miliknya. Sehingga dialah yang paling berhak untuk melakukan apa saja dengan hartanya tersebut tanpa ada campur tangan dari pihak lainnya.

Seorang wanita berhak untuk mengeluarkan hartanya untuk kepentingannya atau untuk sedekah, tanpa harus meminta izin pada suaminya. Dan diantara dalilnya adalah hadist dari Jabir bahwa Rasulullah SAW berceramah di hadapan jamaah wanita, beliau berkata

“Wahai para wanita, perbanyaklah sedekah, sebab saya melihat kalian merupakan mayoritas penghuni neraka.” Sehingga, para wanita itupun berlomba-lomba menyedekahkan perhiasan mereka dan mereka melemparkannya di pakaian Bilal (HR. Muslim)

Sehingga, apabila seorang istri ingin bersedekah, maka orang yang paling utama berhak menerima sedekahnya tersebut adalah suaminya sendiri dan bukan orang lain. Sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadist dari Abu Sa’id ra.

“Dari Abu Sa’id al Khudri ra berkata bahwa, “Zainab, istri Ibnu Mas’ud datang meminta izin untuk bertemu Rasulullah. Beliau bertanya, “Zainab yang mana ?”. Kemudian ada yang menjawab, “Istrinya Ibnus Mas’ud.” Dan Rasulullah mengatakan,“baik, izinkanlah dirinya”. Maka zainab pun berkata, “Wahai nabi Allah, Hari ini engkau memerintahkan untuk bersedekah. Sedangkan aku memiliki perhiasan dan ingin bersedekah. Namun, Ibnu Mas’ud mengatakan bahwa dirinya dan anaknya lebih berhak menerima sedekahku.” Lantas Rasulullah bersabda, “Ibnu Mas’ud berkata benar. Suami dan anakmu lebih berhak menerima sedekahmu.” (HR. Imam Bukhari)

Bahkan, dalan hadist lainnya disebutkan bahwa Rasulullah berkata bahwa, “Benar, ia mendapatkan dua pahala yaitu pahala menjalin tali kekerabatan dan pahala sedekah.

Mengenai hadist diatas, Syaikh Abdul Qadir bin Syaibah al Hamd mengatakan bahwa pelajaran yang bisa diambil adalah :

1.Seorang wanita diperbolehkan untuk bersedekah pada suaminya yang miskin

2.Suami merupakan orang yang paling utama untuk menerima sedekah dari istrinya dibandingkan orang lain

3.Istri diperbolehkan untuk bersedekah pada anak-anaknya dan kaum kerabatnya yang tidak menjadi tanggungannya

4.Sedekah istri yang demikian merupakan bentuk sedekah yang paling utama.

Demikianlah ulasan mengenai penghasilan istri. Sehingga bisa dikatakan bahwa pepatah yang mengatakan “uang suami adalah milik istrinya, sedangkan uang istri adalah milik istri” bukanlah sebuah kata-kata kosong tanpa makna. Sebab, semuanya sudah dijelaskan dalam Islam bahwa hal tersebut benar adanya.
Dengan demikian, semoga para suami bisa adil memperlakukan penghasilan istri dengan tidak mengambil harta istri tanpa keridhoannya. Dan sudah seharusnya seorang istri bersikap bijak jika memiliki harta atau penghasilan melebihi suami.


Benarkah Seorang Perempuan Sedang Haid Dilarang Mandi Keramas dan Potong Kuku? Berikut Jawabannya
Larangan semacam ini muncul dari kepercayaan yang salah bahwa di hari Kebangkitan nanti, semua bagian tubuh seseorang akan kembali, sehingga jka rambut dan kuku tersebut dipotong pada saat orang itu berada dalam keadaan tidak suci seperti junub dan menstruasi. Maka bagian-bagian tubuh itu akan kembali kepadanya dalam keadaan najis. Ini adalah sebuah keyakinan yang sangat menyesatkan karena tidak ada dasarnya sama sekali dalam agama.

Keterangan yang ada justru mengindiksikan sebaliknya. Aisyah ra, mendapat haidh saat mngikuti haji wadaa’. Rasulullah SAW bersabda kepadanya, “Bukalah ikatan rambutmu dan sisirlah. Lalu masuklah ke dalam ihram untuk mengikuti haji ….” [Shahih Bukhari dan Shahih Muslim]. Dan menyisir rambut biasanya selalu diikuti dengan lepasnya beberapa helai rambut.

Lalu ada juga hadist hasan dalam sunah Abu Dawud, tentang perintah Rasulullah SAW kepada seseorang yang baru memeluk Islam untuk memotong rambutnya, berkhitan dan mandi (gusl). Berdasarkan dua hadits ini, Ibnu Taimiyyah rahimahullah menjelaskan; karena Rasulullah SAW tidak menjelaskan urutannya apakah memotong rambut dulu atau mandi dulu, maka hal ini mengindikasikan bolehnya memotong rambut dalam keadaan tidak suci seperti junub dan menstruasi.
Dengan demikian, larangan memotong kuku, rambut, bulu ketiak dan kwmaluan saat menstruasi tidaklah benar, karena 2 alasan:

1. Tidak ada dasarnya dalam Al-Quran dan As-Sunnah.
2. Hadits-hadits shahih dan hasan di atas mengindikasikan bahwa melakukan hal itu tidak apa-apa.

Ini juga kesimpulan para fuqaha dari madzhab As-Syaafi’i, yang mengatakan tidak apa-apa bagi wanita yang sedang menstruasi untuk memotong kuku, bulu ketiak dan kemaluan.

Selain itu, juga perlu diketahui bahwa memotong kuku, mencukur rambut ketiak dan sekitar kemaluan hukumnya adalah wajib, tidak boleh dibiarkan melebihi 40 hari, baik untuk pria maupun wanita.
  1. Bikin Nangis. Anak Ini Belajar Dibawah Penerangan Lampu Jalan Demi Meraih Impiannya
  2. Cintailah Istrimu, Maka Rezeki Akan Terus Mengalir. Tidak Percaya, Baca Kisah Inspirasi Ini
  3. Considering Prostate Cancer Treatment Options
  4. Dahsyat! Ini Keutamaan Surat Al-Falaq dan Surat An-Nas
  5. Gak Perlu Ke Dokter Gigi Untuk Membersihkan Karang Gigi/Plak yang Membandel. Cukup Melakukan Hal Sangat Mudah Ini
Anas radhiyallahu anhu berkata, “Rasulullah SAW menetapkan batas waktu bagi kami untuk memendekkan kumis, memotong kuku, mencabut bulu ketiak dan mencukur bulu kemaluan. Kami tidak diperbolehkan membiarkannya lebih dari 40 hari.” [Shahih Muslim, dan juga hadist-hadits serupa dalam Sunan An-Nasaa’i dan Musnad Ahmad] (sumber Islampos)
Diberdayakan oleh Blogger.