JAKARTA - Kekalahan Maroko di final Piala Afrika 2025 (Africa Cup of Nations/Afcon) dari Senegal pada Senin, 19 Januari 2026, dini hari WIB, masih mengganjal.
Pelatih Maroko, Walid Regragui, pertandingan yang terjeda lama sebelum penalti pada menit-menit akhir mengganggu Brahim Diaz. Hal itu menyebabkan tendangan penalti pemain Real Madrid itu berhasil ditepis kiper Senegal.
Tuan rumah Maroko mendapat penalti kontroversial pada menit kedelapan injury time setelah VAR memutuskan bahwa El Hadji Malick Diouf telah melakukan pelanggaran terhadap Diaz di dalam kotak penalti.
Keputusan tersebut menyebabkan keributan antara kedua tim dan membuat para pemain Senegal meninggalkan lapangan sebagai protes atas instruksi pelatih mereka, Pape Thiaw. Mereka baru kembali ke lapangan setelah penundaan pertandingan selama 14 menit.
Secara keseluruhan, Diaz harus menunggu selama 17 menit sebelum mengambil penaltinya dan akhirnya menendang bola panenka yang dengan mudah ditaklukkan Edouard Mendy.
"Dia menunggu lama yang pasti mengganggunya sebelum mengambil penalti. Namun, kami tidak bisa mengubah apa yang terjadi. Begitulah cara dia memilih untuk mengambil penalti. Kami perlu melihat ke depan sekarang," kata Regragui.
Senegal akhirnya memenangi final setelah gol tunggal Pape Gueye pada menit keempat babak tambahan pertama.
Bagi Diaz, ini ialah akhir turnamen yang kejam. Padahal, dia tampil apik sepanjang perjalanan menuju final. Penyerang Real Madrid itu memenangi Sepatu Emas untuk lima golnya.
Namun, Regragui lebih menyoroti aksi Senegal yang meninggalkan lapangan karena dianggap menimbulkan kekacauan.
"Pertandingan yang kami jalani memalukan bagi Afrika. Ketika seorang pelatih kepala meminta pemainnya untuk meninggalkan lapangan, ketika dia mengatakan hal-hal yang sudah dimulai di konferensi pers (sebelum pertandingan, ketika Senegal menuduh Maroko menggunakan taktik tidak sportif), dia perlu tetap berkelas, baik dalam kemenangan maupun kekalahan."
"Apa yang dilakukan Pape (Thiaw) malam ini tidak menghormati Afrika. Dia sekarang juara Afrika, jadi dia bisa mengatakan apa pun yang dia mau, tetapi mereka menghentikan pertandingan selama lebih dari 10 menit."
"Itu tidak membenarkan cara Brahim menendang (penalti), dia menendangnya seperti itu. Kami harus bertanggung jawab. Kami perlu menatap ke depan sekarang dan menerima bahwa Brahim gagal mengeksekusinya," ujar Regragui.
Posting Komentar