JAKARTA - Serangan Amerika Serikat membuat sejumlah warga Venezuela kehilangan tempat tinggal serta tidak memiliki dana untuk membiayai pemakaman anggota keluarga mereka.
Kantor berita Rusia RIA Novosti melaporkan pada Senin, 5 Januri, salah satu keluarga Venezuela yang tinggal di pinggiran Caracas bercerita mereka kini kehilangan rumah dan sumber penghidupan setelah serangan udara AS.
Serangan AS tersebut sebagian menghancurkan rumah keluarga yang berada di negara bagian pesisir La Guaira, di utara Caracas, dan menewaskan seorang perempuan berusia 80 tahun.
“Kami tidak punya tempat tinggal. Kami perlu memakamkan bibi saya, tetapi kami juga tidak punya uang untuk itu, kami adalah keluarga miskin,” kata seorang pria berusia 62 tahun sebagaimana dilansir ANTARA.
Seorang warga Venezuela lainnya dari kota Catia La Mar, dekat Caracas, mengatakan tetangga lanjut usianya tewas akibat serpihan roket.
Serangan itu juga menghancurkan sebuah gedung apartemen yang dihuni oleh 17 keluarga. Ia menambahkan warga Venezuela masih berjuang mengatasi trauma akibat serangan AS tersebut.
Pada 3 Januari, Amerika Serikat melancarkan serangan besar-besaran terhadap Venezuela, menangkap Presiden Nicolas Maduro dan istrinya, Cilia Flores, serta membawa mereka ke New York.
Presiden AS Donald Trump mengumumkan Maduro dan Flores akan diadili atas dugaan keterlibatan dalam narko-terorisme dan dianggap menimbulkan ancaman, termasuk terhadap Amerika Serikat.
Sebagai tanggapan atas operasi AS tersebut, Caracas meminta diadakannya pertemuan darurat Dewan Keamanan PBB.
Mahkamah Agung Venezuela kemudian menunjuk Wakil Presiden Delcy RodrÃguez sebagai kepala negara sementara.
Kementerian Luar Negeri Rusia menyatakan solidaritasnya dengan rakyat Venezuela serta menyerukan pembebasan Maduro dan istrinya, sekaligus menuntut pencegahan eskalasi lebih lanjut.
Senada, China juga menyerukan pembebasan segera pasangan Maduro, dengan menegaskan tindakan Amerika Serikat melanggar hukum internasional.
Posting Komentar