JAKARTA - Ekonomi China pada periode Januari-Maret 2026 mencatat pertumbuhan riil sebesar 5,0 persen secara tahunan.
Data resmi China memaparkan laju ekspansi meningkat dari 4,5 persen pada kuartal sebelumnya, didukung oleh kinerja ekspor yang kuat meskipun terjadi penyerbuan Amerika Serikat (AS) dan Israel melawan Iran.
Peningkatan produk domestik bruto (PDB) yang disesuaikan dengan inflasi di negara dengan ekonomi terbesar kedua di dunia tersebut, yang menjadi percepatan pertama dalam lima kuartal, sejalan dengan target pertumbuhan 4,5 hingga 5 persen untuk tahun 2026.
Dilansir ANTARA dari Kyodo, Kamis, 16 April, secara kuartalan, PDB China pada tiga bulan pertama 2026 tumbuh 1,3 persen dibandingkan kuartal sebelumnya, lebih tinggi dari pertumbuhan 1,2 persen pada periode Oktober-Desember.
Perang Iran yang dimulai pada 28 Februari telah menyebabkan gangguan rantai pasok dan lonjakan harga energi secara global, namun dampak negatif terhadap ekonomi China sejauh ini dinilai masih terbatas.
Biro Statistik Nasional China menyatakan perekonomian pada kuartal pertama “memulai dengan baik dengan pemulihan indikator makroekonomi utama serta perkembangan pesat pendorong pertumbuhan baru.”
“Namun, kita harus menyadari lingkungan eksternal menjadi semakin kompleks dan tidak stabil, ketidakseimbangan antara pasokan yang kuat dan permintaan yang lemah masih cukup tajam, dan fondasi pertumbuhan ekonomi belum sepenuhnya kokoh,” tambah lembaga tersebut.
Pada periode Januari-Maret, total nilai ekspor meningkat 11,9 persen, sementara impor melonjak 19,6 persen.
Ekspor China ke AS mengalami penurunan akibat ketegangan perdagangan setelah kembalinya Presiden Donald Trump ke Gedung Putih pada Januari tahun lalu, namun pengiriman ke negara-negara Asia lainnya dan kawasan Afrika justru meningkat.
Penjualan ritel barang konsumsi tumbuh 2,4 persen secara tahunan, sementara investasi aset tetap, tidak termasuk rumah tangga pedesaan, naik 1,7 persen. Namun, investasi di sektor properti turun 11,2 persen di tengah krisis berkepanjangan di sektor tersebut.
Produksi industri di China, yang dikenal sebagai “pabrik dunia,” meningkat 6,1 persen.
Pada Selasa, Dana Moneter Internasional (IMF) memperkirakan pertumbuhan ekonomi China akan melambat menjadi 4,4 persen tahun ini dari 5,0 persen pada 2025, dipengaruhi oleh dampak perang di Timur Tengah serta lemahnya konsumsi domestik.
Dalam sidang parlemen tahunan pada Maret, China menetapkan target pertumbuhan PDB 2026 pada level terendah sejak awal 1990-an, di tengah berbagai tantangan termasuk krisis sektor properti dan ketidakpastian geopolitik global.
Posting Komentar