JAKARTA - Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menyoroti dampak eskalasi konflik antara AS-Israel VS Iran terhadap industri manufaktur dalam negeri.
Juru Bicara Kemenperin Febri Hendri Antoni Arif mengungkapkan, berdasarkan survei indeks kepercayaan industri (IKI) pada Maret 2026, dampak gejolak di Timur Tengah masih relatif terbatas pada subsektor tertentu.
Subsektor paling terdampak adalah industri yang mengandalkan bahan baku dari Timur Tengah serta rentan terhadap krisis logistik energi seperti pada industri petrokimia. Meski begitu, Febri menegaskan, gangguan di industri hulu seperti petrokimia akan berdampak terhadap berbagai industri hilir pengguna produk akhir.
Febri mencontohkan, tekanan yang sedang dialami oleh industri plastik berdampak terhadap pasokan dan harga kemasan di industri makanan dan minuman maupun industri pengguna plastik seperti otomotif. Dia menegaskan, sampai saat ini industri hulu masih berproduksi dengan menggunakan persediaan bahan baku yang ada.
Hanya saja, telah terjadi penyesuaian di pasar, antara lain dilakukan melalui kenaikan harga produk. Selain soal bahan baku, Febri mengingatkan, perang di Timur Tengah itu berdampak terhadap krisis logistik energi serta kenaikan biaya logistik untuk impor bahan baku maupun ekspor produk.
Jika kondisi ini terus berlanjut, Febri mengatakan, dampaknya akan menekan kinerja IKI maupun Purchasing Managers' Index (PMI) Manufaktur pada bulan-bulan berikutnya. Menghadapi situasi ini, Kemenperin mengimbau agar para pelaku industri untuk melakukan efisiensi penggunaan energi.
"Kami dari Kemenperin mengimbau kepada pelaku industri dan semua komponen pada ekosistem industri dalam negeri, pertama, melakukan efisiensi penggunaan energi. Kami berharap, industri segera beradaptasi dalam melakukan efisiensi penggunaan energi dan mengantisipasi kenaikan biaya logistik," kata Febri dalam Rilis IKI Maret 2026 di kantor Kemenperin, Jakarta, Selasa, 31 Maret.
Di samping itu, Febri juga menyoroti posisi nilai tukar rupiah yang menembus level psikologis Rp17.000 per dolar AS. Dia mengimbau, agar pelaku industri yang mengimpor bahan baku menggunakan fasilitas Local Currency Transaction (LCT) dari Bank Indonesia (BI) guna meredam dampak bagi tekanan kurs.
Di sisi lain, Febri mendorong agar industri berorientasi pasar ekspor bisa memanfaatkan momentum ini untuk memacu penjualan ke pasar global.
"Ini saatnya memanfaatkan kesempatan untuk meningkatkan daya saing atas produk manufaktur dari negara lain, terutama yang ada di pasar global. Kesempatan untuk membanjiri rantai pasok global dengan produk (dari) industri dalam negeri," ucapnya.
Menurut Febri, pemerintah akan berupaya mendukung industri dalam negeri. Salah satunya dengan menjaga permintaan produk industri di pasar domestik.
"Kemenperin akan bekerjasama dengan kementerian lain, terutama agar demand domestik produk industri itu bisa dilindungi dari banjir produk impor," terangnya.
Pemerintah juga terus memonitor konsumsi rumah tangga, yang akan turut berdampak terhadap demand produk industri manufaktur. Menurut dia, berbagai program pemerintah di bidang ketahanan energi, ketahanan pangan serta program prioritas seperti Makan Bergizi Gratis, Koperasi Desa Merah Putih dan Program 3 Juta Rumah, merupakan bagian dari upaya menjaga demand produk manufaktur di dalam negeri.
Lebih lanjut, kata Febri, pemerintah pun akan terus mendorong program substitusi impor melalui penguatan rantai pasok industri dalam negeri yang mengandalkan bahan baku lokal.
"Kami yakin industri berdasarkan pengalaman dari berbagai krisis sebelumnya seperti pandemi COVID-19 sudah memiliki lesson learned baik untuk menghadapi krisis dan tantangan cukup kuat di depan," jelasnya.
Adapun Kemenperin mencatat, indeks kepercayaan industri (IKI) pada Maret 2026 mencapai 51,86.
Angka tersebut turun drastis hingga 2,16 poin dibandingkan IKI pada Februari 2026 yang tercatat sebesar 54,02.
"IKI pada Maret 2026 mencapai 51,86, masih ekspansi meski melambat 2,16 poin dibandingkan dengan Februari 2026 sebesar 54,02. Selain itu, nilai IKI juga melambat 1,12 poin dibandingkan dengan nilai IKI Maret tahun lalu sebesar 52,98," terang Febri.
Ia menambahkan, pada Maret ini ada 16 subsektor mengalami ekspansif. Kontribusi dari 16 subsektor itu terhadap produk domestik bruto (PDB) sebesar 78,3 persen.
Sementara itu, ada tujuh subsektor industri yang mengalami kontraksi Antara lain, industri minuman, industri pengolahan tembakau, industri kayu, barang dari kayu dan gabus (tidak termasuk furnitur) serta barang anyaman dari bambu, rotan dan sejenisnya.
Kemudian, industri bahan kimia dan barang dari bahan kimia, industri barang galian bukan logam, industri komputer, barang elektronik dan optik serta industri peralatan listrik.
Menurut dia, penurunan kinerja industri pada bulan ketiga terjadi karena kombinasi beberapa faktor. Utamanya faktor musiman seiring dengan berlalunya sejumlah hari besar keagamaan seperti Imlek dan Lebaran. Kondisi itu membuat industri mengurangi produksi.
Posting Komentar