JAKARTA - OpenAI dilaporkan telah meraup pendapatan sekitar US$ 100 juta atau setara Rp 1,6 triliun hanya dalam dua bulan sejak mulai menyisipkan iklan di layanan ChatGPT.
Informasi tersebut mengacu pada laporan yang menyebutkan bahwa model bisnis berbasis iklan mulai menunjukkan hasil signifikan dalam monetisasi platform AI berbasis percakapan.
Selain capaian awal tersebut, OpenAI juga memproyeksikan pendapatan iklan bisa mencapai US$ 2,5 miliar pada akhir 2026. Bahkan, angka tersebut diperkirakan melonjak hingga US$ 53 miliar AS pada 2029 dan berpotensi menembus US$ 100 miliar pada 2030.
Proyeksi ambisius ini didasarkan pada asumsi pertumbuhan pengguna yang signifikan, dengan target mencapai 2,75 miliar pengguna mingguan dalam beberapa tahun ke depan.
Model monetisasi iklan ini dinilai efektif karena ChatGPT mampu memanfaatkan percakapan pengguna untuk menampilkan iklan yang lebih relevan dan terpersonalisasi.
Sejumlah pihak menilai kehadiran iklan berpotensi mengganggu citra ChatGPT sebagai platform netral dan terpercaya, bahkan bisa mendorong pengguna beralih ke layanan pesaing yang tidak menampilkan iklan.
Langkah ini dipandang sebagai jawaban atas tantangan utama industri artificial intelligence (AI), yakni bagaimana menghasilkan keuntungan dari layanan yang sebagian besar digunakan secara gratis.
Namun, strategi tersebut juga memunculkan kekhawatiran dari sebagian pengguna terkait privasi dan potensi penyalahgunaan data percakapan.
Posting Komentar