JAKARTA - Umat Kristen Yerusalem mendesak para pemimpin gereja dunia untuk menentang pemerintah pendudukan Israel melampaui wewenangnya menghalangi ibadah di Gereja Makam Suci.
Desakan ini menyusul Kardinal Pierbattista Pizzaballa, Patriark Katolik Yerusalem yang hendak merayakan Misa Minggu Palma dilarang masuk ke Gereja Makam Suci.
Selama berminggu-minggu sejak Israel bersama AS menyerang Iran mulai 28 Februari, sebagian besar wilayah Kota Tua Yerusalem ditutup secara sepihak pemerintah pendudukan Israel.
Pasukan keamanan Israel bersiaga di banyak titik di gerbang membatasi akses ke situs-situs suci umat Kristiani dan Islam di Yerusalem.
Masjid Al Aqsa juga ditutup sepihak. Umat Muslim tidak dapat mengakses tempat peribadatan suci tersebut, bahkan ketika sebagian besar dari bulan Ramadan hingga Idulfitri 2026.
Umat Muslim dilarang melaksanakan salat Jumat, tarawih, dan salat Idulfitri 2026 di dalam kompleks Masjid Al Aqsa, sehingga mereka memaksa salat di jalanan sekitar Kota Tua.
Kepolisian Israel berdalih larangan masuk Gereja Makam Suci dan Masjid Al Aqsa untuk mengamankan dua situs agama tersebut dari potensi serangan Iran.
Namun, menurut laporan tim media Middle East Eye pada Rabu 1 April, warga Palestina yang tinggal di Yerusalem percaya bahwa pembatasan tersebut sebenarnya untuk menegaskan Israel bisa memperketat kendali atas Kota Tua yang diduduki.
Salah satunya pemilik toko setempat yang beragama Katolik menjadi sumber dengan syarat anonim karena khawatir akan keamanannya mengatakan bahwa Pizzaballa - seorang tokoh yang sangat dihormati dan disegani secara internasional di dalam Gereja Katolik - seharusnya menghadapi para tentara yang menghentikannya memasuki gereja daripada dengan patuh setuju untuk berbalik.
“Seharusnya dia menemukan cara lain,” kata sumber kepada tim. “Jika perlu, dia seharusnya berdoa di jalan,” lanjutnya.
Setelah ditolak masuk ke gereja, Pizzaballa malah memimpin kebaktian di Church of All Nations atau Gereja Semua Bangsa, di Bukit Zaitun di luar tembok Kota Tua.
Sumber tersebut mengatakan bahwa pendeta Italia itu telah bersikap salah karena membiarkan gereja terlibat dalam negosiasi mengenai situs-situs suci dengan otoritas Israel.
Israel menduduki Yerusalem Timur sejak 1967 dan telah dianggap ilegal menurut hukum internasional, serta ditegaskan oleh Mahkamah Internasional pada tahun 2024.
“Dengan bernegosiasi, Anda mengakui otoritas Israel,” kata sumber itu.
Dia menambahkan bahwa komunikasi gereja yang taat pada otoritas pendudukan telah memungkinkan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu muncul sebagai pahlawan dan menampilkan dirinya sebagai “penyelamat”.
Pada Minggu malam, Netanyahu kemudian mengumumkan bahwa ia telah menginstruksikan otoritas Israel untuk memberikan Pizzaballa “akses penuh dan segera” ke Gereja Makam Suci.
Polisi Israel juga mengatakan telah berkoordinasi dengan pejabat gereja terkait ditiadakannya blokade sehingga perayaan Paskah bisa berlangsung.
Kolonialisme di Kota Tua Yerusalem
Di mata umat Kristen Palestina, tidak ada alasan untuk berterima kasih kepada pemerintah pendudukan Israel karena hanya mengizinkan sebagian umat Kristen mengakses Gereja Makam Suci.
Bagi Israel, menghalangi pemeluk agama selain Yahudi melakukan ibadah di situs-situs suci di Yerusalem bisa dilakukan kapanpun tanpa pemberitahuan dahulu.
Selama Pekan Paskah, ketika umat Kristen memperingati penyaliban dan kebangkitan Yesus, penolakan masuk ke Gereja Makam Suci dianggap sebagai tindakan arogansi kolonial yang menghina.
Menurut pendapat banyak umat Kristen di Yerusalem, otoritas keagamaan -baik Katolik, Ortodoks, Armenia, atau dari denominasi lainnya- sudah lama terlalu tunduk kepada Israel.
Para kritikus menuduh para pejabat gereja lebih tertarik pada status dan hak istimewa yang diberikan Israel daripada melayani jemaat mereka.
“Gereja lebih tua dari negara dan kekaisaran. Ketika saya masih kecil, ayah saya akan mengambil cuti untuk pergi ke Kota Tua untuk menikmati tradisi. Sekarang siapa yang benar-benar ingin datang ke Kota Tua untuk diganggu oleh polisi Israel?” tambah sumber.
Tim Middle East Eye kemudian mewawancarai sumber lain di lorong-lorong Kota Tua Yerusalem. Karena pasukan keamanan Israel terus mengawasi, mereka yang setuju berbicara, enggan menyebutkan nama ataupun identitas.
Termasuk seorang wanita yang menenteng belanjaanya ingin pulang ke rumah. “Lihatlah sekeliling,” katanya kepada tim, sambil menunjuk ke jalan-jalan yang kosong.
“Tidak ada perayaan. Pada waktu seperti ini, kota seharusnya ramai. Mereka membunuh setiap rasa sukacita,” sambungnya.
Banyak orang di sini berbagi rasa duka dan keputusasaan mereka. Mereka merasa jengkel atas alasan yang diberikan oleh otoritas pendudukan Israel karena kapanpun bisa menutup tempat-tempat suci di Yerusalem, yang melanggar hak kebebasan beribadah dan intimidatif hampir setiap hari.
Saat tim memasuki Gerbang Damaskus, seorang pemuda Palestina sedang digeledah oleh seorang tentara Israel.
Pasukan Israel juga terus-menerus hadir dan mengganggu di sekitar Gereja Makam Suci - secara terang-terangan menentang kesepakatan "status quo" yang telah lama berlaku yang seharusnya menyerahkan kendali gereja kepada umat Kristen.
Terpisah, Pusat Keadilan Internasional untuk Palestina (ICJP) telah memperingatkan bahwa "penolakan masuknya penjaga resmi situs suci tersebut merupakan tindakan penganiayaan agama yang terang-terangan, yang mencerminkan pelanggaran terhadap otoritas Waqf Yerusalem, penjaga Al-Aqsa."
Seiring kritik yang juga diutarakan oleh banyak warga Palestina, ICJP menuduh Israel menerapkan standar ganda. Otoritas pendudukan Israel telah "mengizinkan perayaan Purim Yahudi berlangsung di tempat lain di kota itu" pada awal perang Iran, bahkan ketika Israel sudah dibombardir oleh rudal Iran.
ICJP mencatat bahwa "media Israel telah melaporkan orang-orang muda yang mabuk menari di jalanan dengan kostum, mengelilingi sebuah kendaraan yang memutar musik keras, untuk merayakan Purim. Terlepas dari itu, penargetan [penghalangan ibadah] terhadap umat Kristen dan Muslim Palestina terus berlanjut."
Tibalah tim Middle East Eye di Gereja Makam Suci, tetapi pintunya terlihat tertutup dari kejauhan. Ketika tim mendekat, pasukan keamanan Israel mengusir.
Di atas pintu masuk Gereja Makam Suci tergantung bendera keamanan Israel - bagi warga Palestina, itu adalah tanda pendudukan asing ilegal.
Bagi mereka, menghalangi ibadah para jemaat adalah tindakan dominasi yang kejam, bukan - seperti yang diklaim Israel - kepedulian yang tulus terhadap keselamatan para umat Kristen.
Posting Komentar